TELAAH JURNAL ISLAM
KEPERCAYAAN MASYARAKAT JAWA TERHADAP SANTET, WANGSIT, DAN ROH
MENURUT PERSPEKTIF EDWARDS EVANS-PRITCHARD
Oleh :
Nama : Fathimatuzzahra Syahrozad
Nuroqi
Jurusan : Statistika-A
NIM : 24010213120041
1.
Alasan
memilih judul Kepercayaan Masyarakat Jawa terhadap Santet, Wangsit, dan Roh
Menurut Perspektif Edwards Evans-Pritchard
Dalam suatu masyarakat, tidak sedikit bahkan
hampir tidak ada masyarakat yang tidak memiliki konsep agama dengan kata lain,
setiap masyarakat memiliki konsep tentang agama. Meskipun perubahan sosial
telah mengubah makna dan orientasi agama, namun hal tersebut tidak dapat
menghapuskan eksistensi agama dalam masyarakat. Berkaitan dengan universalitas
agama dalam suatu masyarakat, maka tak lengkap rasanya jika dalam memgkaji
masyarakat tanpa melihat konsep agama sebagai salah satu faktornya. Di sini
alasan saya memilih jurnal mengenai kepercayaan masyarakat terhadap santet,
wangsit, dan roh adalah karena di zaman yang bisa dibilang modern ini masih
banyak masyarakat yang dikenal sebagai masyarakat yang kental akan mitos-mitos
terutama pada masyarakat Jawa. Tak hanya
itu, penulis jurnal pun telah membandingkan kepercayaan masyarakat Jawa
terhadap santet, wangsit, dan roh terhadap perspektif Edwards Evans-Pritchard,
sehingga informasi yang bisa saya ambil lebih akurat.
2.
Intisari
Jurnal
Kajian mengenai agama begitu sulit karena
meneliti sesuatau yang menyangkut kepercayaan, dimana kebenarannya berasal dari
keyakinan. Menurut Evans-Pritchard (seorang pionir dalam tradisi antropologi
sosial di Inggris), dilema kajian tentang agama adalah pemahaman realitas agama
tidak akan sepenuhnya dapat dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar
mengamalkan agama itu sendiri. Hal ini pernah ia rasakan ketika ia kesulitan
menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi di Cyrenica Libia kepada guru Sufi
mereka. Kemudian ia melakukan gebrakan baru di Sudan (Suku Azande dan Nuer). Ia
begitu gamblang dalam memaparkan bagaimana Suku di Sudan (Suku Azande dan Nuer)
memaknai agamanya. Disamping itu, Evans-Pritchard juga menjelaskan
ketidaknalaran keyakinan mereka terhadap hal-hal supranatural seperti santet, wangsit dan
kepercayaan terhadap roh-roh ghaib yang mana ketiga unsur kepercayaan ini mirip
dengan kepercayaan masyarakat jawa.
1.
Santet
Santet atau guna-guna (Jawa:tenung,
teluh) adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh
dengan menggunakan ilmu hitam. Santet digunakan melalui beberapa media seperti
rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, dan lain-lain. Orang yang
terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia. Dan biasanya santet
digunakan oleh orang-orang yang memiliki dendam kepada orang lain. Menurut
masyarakat suku Azande, santet pada dasarnya merujuk substansi fisik sesorang
tetapi tidak disadarinya. Misalnya, orang sakit perut dianggap terkena santet.
Kepercayaan terhadap santet telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan
mereka, khususnya yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sial.
2.
Wangsit
Wangsit
juga sering diistilahkan sebagai ilham, perintah, sabda, tuntutan, dhawuh
(perintah), wasik (bisikan ghaib) dari Tuhan Yang Maha Esa. Wangsit diterima
saat seseorang sedang melaksanakan sujud menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak sembarang orang yang dapat menerima wangsit, hanya orang-orang yang
terpilih yang mampu menerimanya. Orang yang terpilih tersebut adalah orang yang
tekun mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, tekun mencari hakikat dari
hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Orang tersebut juga tekun menjalankan
apa yang diistilahkan dengan laku, yaitu menjalankan berbagai bentuk puasa
seperti tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu, mutih (hanya makan
nasi putih), ngrowot (hanya makan buah-buahan), dan lain-lain.
Contohnya
peristiwa meletusnya Gunung Merapi menyisakan banyak peristiwa. Sebelum Gunung
Merapi meletus ada seorang warga di Lereng Merapi terutama di wilayah Kawasan
Rawan Bencana (KR) III di dukuh Takeran, desa Tlogolele, Solo, Boyolali,
mengaku diberi wangsit oleh mbah Petruk (seorang tokoh yang dianggap penjaga
Merapi). Wangsit tersebut didapat melalui mimpi untuk memprediksikan hal-hal
yang akan terjadi. Menurut wangsit dari mbah Petruk, warga setempat harus
menggelar kenduri agar selamat dari bahaya Merapi. Dalam mimpi tersebut, mbah
Petruk meminta agar kenduri dilengkapi dengan berbagai ubarampe, seperti sega
cagak atau tumpeng nasi tawar, tumpeng nasi gunung atau nasi jagung, palawija,
jajan pasar, dan tumpeng kendhit. Disamping itu, warga juga diminta untuk juga
membaca Surat Yasin, tahlil, dan doa untuk keselamatan warga sekitar.
Sedangkan dalam masyarakat suku
Azande, mereka mengira bahwa jika ada penyakit berbahaya yang merenggut jiawa
seseorang pasti ada tenung didalam tubuhnya yang harus segera ditemukan dan
diadili. Untuk menemukan penyebabnya, seseorang akan memasukkan racun ke dalam
tenggorokan seekor ayam. Jika ayam itu mati, berarti orang yang memiliki tenung
penyebab penyakit itu telah ditemukan. Proses ini disebut dengan “wangsit
racun”.
3.
Kepercayaan terhadap roh
Sistem
kepercayaan telah berkembang pada masa manusia pra aksara. Mereka menyadari
bahwa ada kekuatan lain diluar mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha
mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan
berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual
lainnya.
Kepercayaan
terhadap adanya kekuatan metafisik juga terdapat pada masyarakat Jawa meskipun
masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Mereka percaya pada
suatu hal dibalik penampakan fisik yang mereka lihat. Itulah sebab mengapa
masyarakat Jawa percaya adanya roh, dan hal-hal spiritual lainnya. Mereka kagum
terhadap kejadian-kejadian disekitar
mereka, terhadap fenomena-fenomena alam sehari-hari yang kadang sulit
dipahami dengan rasio. Rasa kagum inilah yang melahirkan bermacam-macam ritual
tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Pemikiran kosmologis
masyarakat Jawa tersebut kemudian mendasari perilaku masyarakat Jawa dengan
kehidupan sehari-hari. Karena masyarakat Jawa yakin bahwa baik buruknya
kejadian di dunia empiris sangat ditentukan oleh kejadian di dunia metaempiris
yang dipersonifikasikan sebagai roh-roh tersebut, maka yang paling penting bagi
orang Jawa adalah menjaga agar ‘roh-roh’ di dunia metaempiris selalu berkenan
dengan tingkah laku manusia di dunia empiris. Oleh karena itu, dalam kebudayaan
Jawa dikenal beberapa ritual yang berbau mistis sebagai usaha untuk menjaga
keselarasan dan keharmonisan hubungan dunia empiris dan dunia metaempiris.
3.
Manfaat
jurnal
Kajian tentang kepercayaan memang
rumit karena ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Asal-usul pengetahuan
manusia pada awalnya didasarkan pada keyakinan –keyakinan manusia mengenai
sesuatau yang ada di luar dirinya.
Keterbatasan pola pikir manusia pada zaman dahulu memunculkan suatu
konsep pengetahuan mengenai suatu kekuatan yang memunculkan keajaiban atau
sesuatu yang berbau mistik atau tahayul. Zaman terus berjalan, seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya masyarakat mulai berpikir
secara rasional. Namun pada kenyataannya, masyarakat Jawa yang religius
terbilang modern pun masih mempercayai hal-hal yang mistis. Jadi, melalui
jurnal ini diharapkan pembaca dapat mengambil banyak manfaat seperti agar lebih
berpikir rasional, paham betul bahwa hal-hal seperti percaya wangsit, santet,
dan roh termasuk syirik.
4.
Kesimpulan
dan Saran
Dari jurnal ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa masih banyak masyarakat yang percaya terhadap wangsit, santet,
dan roh khususnya masyarakat Jawa. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa apa yang
mereka percayai termasuk syirik walaupun masyarakat Jawa dikenal sebagai
masyarakat yang religius. Justru kereligiusannya lah yang membawa mereka untuk
lebih taat dan percaya terhadap mitos-mitos. Tentunya hal ini dipicu karena
salahnya perspektif mereka terhadap Islam dan budaya Jawa. Semoga melalui
jurnal ini kita bisa lebih paham mengenai kesalahpahaman terhadap korelasi
antara budaya dan agama sehingga kita bisa meluruskan agama Islam.
0 komentar:
Posting Komentar