Cute Box Cat
Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Sabtu, 28 Desember 2013

Telaah Jurnal Agama Islam 1


TELAAH JURNAL ISLAM
KEPERCAYAAN MASYARAKAT JAWA TERHADAP SANTET, WANGSIT, DAN ROH MENURUT PERSPEKTIF EDWARDS EVANS-PRITCHARD
Oleh      :
Nama                  : Fathimatuzzahra Syahrozad Nuroqi
Jurusan              : Statistika-A
NIM                     : 24010213120041

1.              Alasan memilih judul Kepercayaan Masyarakat Jawa terhadap Santet, Wangsit, dan Roh Menurut Perspektif Edwards Evans-Pritchard
Dalam suatu masyarakat, tidak sedikit bahkan hampir tidak ada masyarakat yang tidak memiliki konsep agama dengan kata lain, setiap masyarakat memiliki konsep tentang agama. Meskipun perubahan sosial telah mengubah makna dan orientasi agama, namun hal tersebut tidak dapat menghapuskan eksistensi agama dalam masyarakat. Berkaitan dengan universalitas agama dalam suatu masyarakat, maka tak lengkap rasanya jika dalam memgkaji masyarakat tanpa melihat konsep agama sebagai salah satu faktornya. Di sini alasan saya memilih jurnal mengenai kepercayaan masyarakat terhadap santet, wangsit, dan roh adalah karena di zaman yang bisa dibilang modern ini masih banyak masyarakat yang dikenal sebagai masyarakat yang kental akan mitos-mitos terutama pada  masyarakat Jawa. Tak hanya itu, penulis jurnal pun telah membandingkan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap santet, wangsit, dan roh terhadap perspektif Edwards Evans-Pritchard, sehingga informasi yang bisa saya ambil lebih akurat.
2.              Intisari Jurnal
Kajian mengenai agama begitu sulit karena meneliti sesuatau yang menyangkut kepercayaan, dimana kebenarannya berasal dari keyakinan. Menurut Evans-Pritchard (seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris), dilema kajian tentang agama adalah pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar mengamalkan agama itu sendiri. Hal ini pernah ia rasakan ketika ia kesulitan menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi di Cyrenica Libia kepada guru Sufi mereka. Kemudian ia melakukan gebrakan baru di Sudan (Suku Azande dan Nuer). Ia begitu gamblang dalam memaparkan bagaimana Suku di Sudan (Suku Azande dan Nuer) memaknai agamanya. Disamping itu, Evans-Pritchard juga menjelaskan ketidaknalaran keyakinan mereka terhadap hal-hal  supranatural seperti santet, wangsit dan kepercayaan terhadap roh-roh ghaib yang mana ketiga unsur kepercayaan ini mirip dengan kepercayaan masyarakat jawa.
1.       Santet
Santet atau guna-guna (Jawa:tenung, teluh) adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet digunakan melalui beberapa media seperti rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, dan lain-lain. Orang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia. Dan biasanya santet digunakan oleh orang-orang yang memiliki dendam kepada orang lain. Menurut masyarakat suku Azande, santet pada dasarnya merujuk substansi fisik sesorang tetapi tidak disadarinya. Misalnya, orang sakit perut dianggap terkena santet. Kepercayaan terhadap santet telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan mereka, khususnya yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sial.
2.       Wangsit
Wangsit juga sering diistilahkan sebagai ilham, perintah, sabda, tuntutan, dhawuh (perintah), wasik (bisikan ghaib) dari Tuhan Yang Maha Esa. Wangsit diterima saat seseorang sedang melaksanakan sujud menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak sembarang orang yang dapat menerima wangsit, hanya orang-orang yang terpilih yang mampu menerimanya. Orang yang terpilih tersebut adalah orang yang tekun mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, tekun mencari hakikat dari hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Orang tersebut juga tekun menjalankan apa yang diistilahkan dengan laku, yaitu menjalankan berbagai bentuk puasa seperti tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu, mutih (hanya makan nasi putih), ngrowot (hanya makan buah-buahan), dan lain-lain.
Contohnya peristiwa meletusnya Gunung Merapi menyisakan banyak peristiwa. Sebelum Gunung Merapi meletus ada seorang warga di Lereng Merapi terutama di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KR) III di dukuh Takeran, desa Tlogolele, Solo, Boyolali, mengaku diberi wangsit oleh mbah Petruk (seorang tokoh yang dianggap penjaga Merapi). Wangsit tersebut didapat melalui mimpi untuk memprediksikan hal-hal yang akan terjadi. Menurut wangsit dari mbah Petruk, warga setempat harus menggelar kenduri agar selamat dari bahaya Merapi. Dalam mimpi tersebut, mbah Petruk meminta agar kenduri dilengkapi dengan berbagai ubarampe, seperti sega cagak atau tumpeng nasi tawar, tumpeng nasi gunung atau nasi jagung, palawija, jajan pasar, dan tumpeng kendhit. Disamping itu, warga juga diminta untuk juga membaca Surat Yasin, tahlil, dan doa untuk keselamatan warga sekitar.
Sedangkan dalam masyarakat suku Azande, mereka mengira bahwa jika ada penyakit berbahaya yang merenggut jiawa seseorang pasti ada tenung didalam tubuhnya yang harus segera ditemukan dan diadili. Untuk menemukan penyebabnya, seseorang akan memasukkan racun ke dalam tenggorokan seekor ayam. Jika ayam itu mati, berarti orang yang memiliki tenung penyebab penyakit itu telah ditemukan. Proses ini disebut dengan “wangsit racun”.
3.       Kepercayaan terhadap roh
Sistem kepercayaan telah berkembang pada masa manusia pra aksara. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain diluar mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya.
Kepercayaan terhadap adanya kekuatan metafisik juga terdapat pada masyarakat Jawa meskipun masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Mereka percaya pada suatu hal dibalik penampakan fisik yang mereka lihat. Itulah sebab mengapa masyarakat Jawa percaya adanya roh, dan hal-hal spiritual lainnya. Mereka kagum terhadap kejadian-kejadian disekitar  mereka, terhadap fenomena-fenomena alam sehari-hari yang kadang sulit dipahami dengan rasio. Rasa kagum inilah yang melahirkan bermacam-macam ritual tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Pemikiran kosmologis masyarakat Jawa tersebut kemudian mendasari perilaku masyarakat Jawa dengan kehidupan sehari-hari. Karena masyarakat Jawa yakin bahwa baik buruknya kejadian di dunia empiris sangat ditentukan oleh kejadian di dunia metaempiris yang dipersonifikasikan sebagai roh-roh tersebut, maka yang paling penting bagi orang Jawa adalah menjaga agar ‘roh-roh’ di dunia metaempiris selalu berkenan dengan tingkah laku manusia di dunia empiris. Oleh karena itu, dalam kebudayaan Jawa dikenal beberapa ritual yang berbau mistis sebagai usaha untuk menjaga keselarasan dan keharmonisan hubungan dunia empiris dan dunia metaempiris.

3.              Manfaat jurnal
Kajian tentang kepercayaan memang rumit karena ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Asal-usul pengetahuan manusia pada awalnya didasarkan pada keyakinan –keyakinan manusia mengenai sesuatau yang ada di luar dirinya.  Keterbatasan pola pikir manusia pada zaman dahulu memunculkan suatu konsep pengetahuan mengenai suatu kekuatan yang memunculkan keajaiban atau sesuatu yang berbau mistik atau tahayul. Zaman terus berjalan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya masyarakat mulai berpikir secara rasional. Namun pada kenyataannya, masyarakat Jawa yang religius terbilang modern pun masih mempercayai hal-hal yang mistis. Jadi, melalui jurnal ini diharapkan pembaca dapat mengambil banyak manfaat seperti agar lebih berpikir rasional, paham betul bahwa hal-hal seperti percaya wangsit, santet, dan roh termasuk syirik.
4.              Kesimpulan dan Saran
Dari jurnal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa masih banyak masyarakat yang percaya terhadap wangsit, santet, dan roh khususnya masyarakat Jawa. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka percayai termasuk syirik walaupun masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Justru kereligiusannya lah yang membawa mereka untuk lebih taat dan percaya terhadap mitos-mitos. Tentunya hal ini dipicu karena salahnya perspektif mereka terhadap Islam dan budaya Jawa. Semoga melalui jurnal ini kita bisa lebih paham mengenai kesalahpahaman terhadap korelasi antara budaya dan agama sehingga kita bisa meluruskan agama Islam.

0 komentar:

Posting Komentar