Cute Box Cat
Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Sabtu, 28 Desember 2013

Telaah Jurnal Agama Islam 3


TELAAH JURNAL ISLAM
PERANAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK-ANAK
Oleh      :
Nama                  : Fathimatuzzahra Syahrozad Nuroqi
Jurusan              : Statistika-A
NIM                     : 24010213120041
1.              Alasan memilih judul Peranan Pendidikan Agama dalam Keluarga terhadap Pembentukan Kepribadian Anak-Anak
Sekarang ini, tak sedikit anak-anak yang memiliki nilai moral dan nilai agama yang baik. Hal ini tentunya dipicu oleh kurangnya pendidikan moral dan pendidikan agama dalam lingkungan keluarganya. Karena faktor utama yang mempengaruhi kepribadian anak agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran (seperti kenakalan remaja, tawuran, free sex, kekerasan, serta berbagai bentuk penyimpangan kejiwaan seperti depresi, stress, dan kecemasan) adalah lingkup keluarganya. Sejak lahir, anak harus sudah dikenalkan dengan kalimat thoyyibah. Setelah tumbuh dan berkembang, anak perlu diberi pembinaan karakter dalam keluarganya sejak dini. Selain itu, agar anak memiliki karakter yang baik, maka antara ibu dan bapak harus menjaga keharmonisan keluarga dan orang tua harus mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi anaknya. Hal ini merupakan salah satu alasan bagi saya mengapa memilih jurnal mengenai pentingnya peran pendidikan agama dalam keluarga sebagai pembentukan kepribadian anak.
2.              Intisari Jurnal
Keluarga secara etimologis berasal dari dua kata yaitu “kawula” dan “warga”. Kawula berarti abdi yakni hamba dan warga berarti anggota. Sebagai abdi di keluarga, seseorang wajib menyerahkan segala kepentingan kepada keluarganya, dan sebagai warga atau anggota seseorang berhak ikut untuk mengurus segala kepentingan di keluarganya. Keluarga merupakan unit terkecil yang terdiri dari ibu, bapak, dan anak, dimana orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perilaku yang dimiliki oleh anaknya.
PERANAN KELUARGA BAGI ANAK-ANAK
Menurut Syamsu Yusuf (2007), keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentuk kepribadian anak. Alasannya adalah:
·         Keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak
·         Anak banyak menghabiskan waktu di lungkungan keluarga
·         Para anggota keluarga adalah “significant people” bagi pembentukan kepribadian anak
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi individu dimana ia berinteraksi. Dari interaksi pertama inilah individu memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar kepribadiannya, akhlak, nilai-nilai, kebiasaan, emosi, merubah kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan, dan kesediaannya menjadi kenyataan dalam hidup dan tingkah laku yang tampak. Jadi, keluarga bagi individu merupakan simbol atas nilai-nilai mulia seperti keimanan teguh kepada Allah, pengorbanankesediaan berkoban untuk kelompok, cinta kebaikan, dll dimana melalui keluarga tersebut individu dapat menanamkan kepribadian yang baik.
Keluarga tidak hanya penting bagi seorang individu, akan tetapi keluarga juga penting bagi masyarakat sehingga masyarakat dianggap sebagai institusi sosial yang terpenting dan unit sosial yang mampu membentuk kepribadian anggota keluarga baik berupa nilai-nilai, kebudayaan, dll. Sehingga dapat dikatakan jika kepribadian keluarga baik maka masyarakatnya dapat dikatakan baik pula karena keluarga sebagai cerminan suatu masyarakat.
Jadi, suasana keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan agamis adalah suasana yang memberikan curahan kasih sayang, perhatian, bimbingan dalam bidang agama, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif dan sehat. Sedangkan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berantakan, tidak harmonis, keras, dan tidak memperhatikan anak, maka anak tersebut cenderung memiliki kepribadian yang mengalami distorsi atau kelainan dalam penyesuaian dirinya.
Menurut M.I. Sulaeman (1994:84), fungsi keluarga ada 8 jenis yaitu:
·         Fungsi edukatif
·         Fungsi sosialisasi
·         Fungsi proteksi
·         Fungsi afeksi
·         Fungsi religius
·         Fungsi ekonomi
·         Fungsi rekreasi
·         Fungsi biologis
berdasarkan beberapa fungsi di atas, keluarga memiliki peran edukasi untuk mendidik anak baik mengenai pendidikan moral ataupun agama.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN
·         Faktor keturunan terutama yang berkaitan dengan pematangan karakteristik fisik dan mental
·         Interaksi figur yang signifikan dari semua anggota keluarga (ibu, bapak, saudara dan keluarga lainnya)
·         Interaksi antara individu dengan lingkungan
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ANAK BERKEPRIBADIAN BURUK
Faktor yang meyebabkan anak memiliki kepribadian yang buruk adalah kurang tertanamnya agama pada tiap-tiap orang dalam masyarakat; keadaan masyarakat yang kurang stabil baik dari segi ekonomi, sosial, maupun politik; pendidikan moral tidak terlaksana sebaagimana mestinya baik di rumah tangga, sekolah, maupun masyarakat; suasana rumah tangga yang kurang baik; diperkenalkannya dengan populer obat-obat dan alat-alat anti hamil; banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-kesenian yang tidka mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan moral; kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang dengan cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral; tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi anak-anak dan pemuda-pemuda.
PERANAN PENDIDKAN AGAMA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK
Menurut M.I. Sulaeman (1978:66), keluarga sebagai fungsi religius yaitu keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama. Untuk melaksanakannya, ornag tua sebagai tokoh-tokoh inti dalam keluarga itu terlebih dahulu harus menciptakan iklim religius dalam keluarga itu yang dapat dihayati anggota keluarganya terutama bagi anaknya. Jadi, pendidikan agama harus diajarkan sejak dini karena sejak itulah anak sudah siap untuk menerima pendidikan agama dimana anak harus dikenalkan tidak hanya mencakup sholat, puasa, zakat, mengaji, namun secara keseluruhan agar mereka lebih mengenal Allah dan agamanya. Rasul bersabda “Muliakanlah anak-anakmu dan baikkanlah adab mereka” H.R. Ibnu Majah.
Kewajiban keluarga agar anak memiliki kepribadian yang baik adalah:
·         Memeberi contoh yang baik kepada anak-anaknya dalam berpegang teguh kepada akhlak mulia
·         Menyediakan bagi anak-anaknya peluang-peluang dan  susasana praktis dimana mereka dapat mempraktekkan akhlak yang diterima dari orang tuanya
·         Memberi tanggung jawab yang sesuai bagi anaknya supaya mereka bebas memilih dalam tindak-tanduknya
·         Menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan sadar dan bijaksana
·         Menjaga mereka dari teman-teman  yang menyeleweng dan tempat-tempat kerusakan, dan lain-lain lagi cara dimana keluarga dapat mendidik akhlak anak-anaknya

3.              Manfaat jurnal
Jurnal ini membahas mengenai berbagai alasan mengapa pendidikan agama begitu penting bagi pembentukan karakter anak oleh keluarga. Tak hanya itu, jurnal ini membahas mengenai faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anak memiliki kepribadian buruk, serta memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang perlu dilakukan bagi keluarga agar anak memiliki karakter yang baik.
4.              Kesimpulan dan Saran
Dari jurnal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian anak, karena dalam lingkup inilah anak menerima pendidikan yang mempengaruhi perkembangan kepribadian selanjutnya.
Agar anak terhindar dari pelanggaran-pelanggaran dan memiliki kepribadian yang baik, maka harus dilakukan pendidikan moral dan agama oleh keluarga sejak dini.
Semoga melalui jurnal ini, orang tua menjadi faham betul mengenai peran penting mereka bagi kepribadian anak-anaknya. Dan semoga pembaca jurnal dapat mengambil intisari dari jurnal ini dengan baik sehingga apa yang didapatkan mampu diaplikasikan.

Telaah Jurnal Agama Islam 2


TELAAH JURNAL ISLAM
KONDUSIFITAS KEHIDUPAN BERAGAMA KAUM EKSPATRIAT INDONESIA DI KOREA SELATAN
Oleh      :
Nama                  : Fathimatuzzahra Syahrozad Nuroqi
Jurusan              : Statistika-A
NIM                     : 24010213120041
1.              Alasan memilih judul Kondusifitas Kehidupan Beragama Kaum Ekspatriat Indonesia di Korea Selatan
Tak sedikit warga Indonesia yang menetap di Korea Selatan baik dengan alasan untuk bekerja, menikah, dll. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang mana hal ini sangat berlawanan dengan penduduk Korea yang minoritas beragama Islam, sehingga dapat diasumsikan bahwa mayoritas kaum ekspatriat Indonesia di Korea Selatan beragama Islam dan tentunya suasana kehidupan beragama di korea selatan juga berbeda. Di sini alasan saya memilih jurnal ini adalah karena saya ingin mengetahui bagaimanakah perbedaan suasana kehidupan beragama di Korea Selatan.
2.              Intisari Jurnal
KEHIDUPAN BERAGAMA DI KOREA SELATAN
Korea Selatan merupakan salah satu negara yang berbentuk Republik. Berbeda dengan Korea Utara yang merupakan negara komunis. Pemerintah Korea Selatan memberi kebebasan kepada masyarakat untuk beragama. Beserta itu, Pemerintah Korea juga tidak mewajibkan masyarakatnya untuk memeluk suatu agama. Hal-hal yang berkaitan dengan agama dikembalikan kepada individu yang bersangkutan. Contohnya, pernikahan beda agama bukanlah suatu masalah di Korea.
Pemerintah tetap meliburkan warga pada saat hari raya keagamaan yang dianut cukup besar, seperti katholik, protestan, dan budha. Untuk hari raya agama lain termasuk Islam tidak masuk hari libur resmi.
Setiap tempat umum dan perkantoran dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap, bahkan sampai tempat bermain anak pun ada. Namun, tak dilengkapi dengan tempat ibadah untuk agama apapun. Jadi, untuk orang Islam wajib sholat 5 kali sehari di tempat yang darurat (memungkinkan).
Sebagian besar warga Korea tidak beragama (atheis), katholik 10%, budha 23%, kristen 18%, dan penganut agama Islam hanya sedikit dan itupun mungkin kaum ekpatriat yang menetap di Korea untuk menikah, bekerja, ataupun menuntut ilmu. Hal ini tentunya mempengaruhi peraturan pemerintah mengenai makanan. di Korea tidak ada aturan makanan halal dan haram karena minoritasnya kaum Muslim dan Korea tidak menganjurkan warganya untuk beragama. Akan tetapi makanan halal banyak ditemukan hanya disekitar masjid saja yang dikelola oleh warga Korea yang didominasi oleh kaum ekspatriat Islam.

KAUM EKSPATRIAT INDONESIA DI KOREA SELATAN
Lebih dari 35 ribu warga Indonesia menetap di Korea baik untuk mengenyam pendidikan, bekerja, menikah, dll.
Dalam permasalahan nikah campur, terjadi perbedaan agama antara istri dan mertua, akan tetapi rasa toleransi dan tenggang rasa sangat tinggi.

KONDUSIFITAS KEHIDUPAN BERAGAMA KAUM EKSPATRIAT INDONESIA DI KOREA SELATAN
Kebebasan beragama dijalankan secara mutlak dalam hukum dan pemerintahan Korea, jadi tidak ada larangan bagi kaum muslim untuk beribadah walaupun Islam hanya minoritas dan rasa toleransi serta tenggang rasa sangat tinggi sehingga terjadi saling menghargai antar agama lain termasuk Islam.
Di Korea tidak ada larangan bagi muslimah untuk memakai hijab karena di perkantoran pun tidak ada larangan dan peraturan mengenai cara berpakaian.
Kondusifitas ibadah keluarga kawin campur tidak bergitu masalah karena terjadi saling menghormati antar anggota keluarga dalam hal berkeluarga walaupun sebagian tidak beragama dan sebagian memiliki agama selain Islam.
Dalam hal sholat tarawih bisa dilakukan di masjid ataupun mushola, akan tetapi di mushola jarang menyediakan shaf untuk perempuan. Sedangkan sholat jumat bisa dilakukan di masjid.
Mengenai makanan sedikit bermasalah karena babi dan anjing merupakan makanan favorit di Korea, sehingga mempersulit kaum muslim untuk membeli makanan halal. Akan tetapi, beebagai organisasi yang digagas oleh kaum ekspatriat telah menyediakan makanan halal dan rutin memberikan informasi mengenai makanan yang halal untuk dimakan.
Silaturahmi antar kaum muslim pun dimudahkan melalui jejaring sosial seperti facebook dari beberapa organisasi Islam diKorea seperti IKMI, IMUSKA, dan KMI.
Mengenai pendidikan seperti pengajian bagi anak hanya terdapat di masjid itaewon. Bahkan disekitarnya terdapat sekolah agama. Saat penelitian ini dilakukan, berbagai organisasi sedang membahas mengenai hal ini, dan mereka berencana untuk mengadakan kajian sekali dalam seminggu di masjid ini yang mana akan disebarkan ke masjid lain.
Dengan demikian, kehidupan beragama bagi kaum ekspatriat Indonesia masih tetap bisa dijalankan secara kondusif. Apalagi pemerintah Korea tidak melarang warganya untuk memeluk agama dan beribadah asalkan tidak mengganggu politik dalam negri mereka. Untuk masalah melihat aurat orang lain dan masalah makanan halal itu adalah tantangan. Sehingga diperlukan kegigihan yang tinggi untuk terus bertahan dengan syariat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits.


3.              Manfaat jurnal
Jurnal ini membahas mengenai berbagai keadaan kehidupan beragama di Korea baik dari sudut pandang korea sendiri maupun dari kaum ekspatriat. Jurnal ini memberikan banyak manfaat sehingga kita bisa mengetahui bagaimana kondusifitas kehidupan beragama kaum ekspatriat Indonesia di Korea Selatan. Tak hanya itu, bahkan jurnal ini memberikan informasi kepada kita bahwa terdapat berbagai organisasi Islam di Korea yang berperan sangat penting dan memiliki pertanggung jawaban yang sangat besar sehingga ikatan silaturahmi sesama muslim masih bisa terjalin dengan baik dan seluruh kegiatan peribadahan Islam menjadi lebih kondusif.
4.              Kesimpulan dan Saran
Dari jurnal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun pemerintah Korea tidak menganjurkan warganya untuk memeluk agama, namun warga korea memiliki toleransi dan tenggang rasa yang sangat tinggi sehingga antar warga bisa saling menghormati dalam masalah peribadahan.
Semoga melalui jurnal ini, pembaca bisa menerima banyak manfaat dan apa yang kita anggap positif semoga bisa diaplikasikan.

Telaah Jurnal Agama Islam 1


TELAAH JURNAL ISLAM
KEPERCAYAAN MASYARAKAT JAWA TERHADAP SANTET, WANGSIT, DAN ROH MENURUT PERSPEKTIF EDWARDS EVANS-PRITCHARD
Oleh      :
Nama                  : Fathimatuzzahra Syahrozad Nuroqi
Jurusan              : Statistika-A
NIM                     : 24010213120041

1.              Alasan memilih judul Kepercayaan Masyarakat Jawa terhadap Santet, Wangsit, dan Roh Menurut Perspektif Edwards Evans-Pritchard
Dalam suatu masyarakat, tidak sedikit bahkan hampir tidak ada masyarakat yang tidak memiliki konsep agama dengan kata lain, setiap masyarakat memiliki konsep tentang agama. Meskipun perubahan sosial telah mengubah makna dan orientasi agama, namun hal tersebut tidak dapat menghapuskan eksistensi agama dalam masyarakat. Berkaitan dengan universalitas agama dalam suatu masyarakat, maka tak lengkap rasanya jika dalam memgkaji masyarakat tanpa melihat konsep agama sebagai salah satu faktornya. Di sini alasan saya memilih jurnal mengenai kepercayaan masyarakat terhadap santet, wangsit, dan roh adalah karena di zaman yang bisa dibilang modern ini masih banyak masyarakat yang dikenal sebagai masyarakat yang kental akan mitos-mitos terutama pada  masyarakat Jawa. Tak hanya itu, penulis jurnal pun telah membandingkan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap santet, wangsit, dan roh terhadap perspektif Edwards Evans-Pritchard, sehingga informasi yang bisa saya ambil lebih akurat.
2.              Intisari Jurnal
Kajian mengenai agama begitu sulit karena meneliti sesuatau yang menyangkut kepercayaan, dimana kebenarannya berasal dari keyakinan. Menurut Evans-Pritchard (seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris), dilema kajian tentang agama adalah pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar mengamalkan agama itu sendiri. Hal ini pernah ia rasakan ketika ia kesulitan menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi di Cyrenica Libia kepada guru Sufi mereka. Kemudian ia melakukan gebrakan baru di Sudan (Suku Azande dan Nuer). Ia begitu gamblang dalam memaparkan bagaimana Suku di Sudan (Suku Azande dan Nuer) memaknai agamanya. Disamping itu, Evans-Pritchard juga menjelaskan ketidaknalaran keyakinan mereka terhadap hal-hal  supranatural seperti santet, wangsit dan kepercayaan terhadap roh-roh ghaib yang mana ketiga unsur kepercayaan ini mirip dengan kepercayaan masyarakat jawa.
1.       Santet
Santet atau guna-guna (Jawa:tenung, teluh) adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet digunakan melalui beberapa media seperti rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, dan lain-lain. Orang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia. Dan biasanya santet digunakan oleh orang-orang yang memiliki dendam kepada orang lain. Menurut masyarakat suku Azande, santet pada dasarnya merujuk substansi fisik sesorang tetapi tidak disadarinya. Misalnya, orang sakit perut dianggap terkena santet. Kepercayaan terhadap santet telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan mereka, khususnya yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sial.
2.       Wangsit
Wangsit juga sering diistilahkan sebagai ilham, perintah, sabda, tuntutan, dhawuh (perintah), wasik (bisikan ghaib) dari Tuhan Yang Maha Esa. Wangsit diterima saat seseorang sedang melaksanakan sujud menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak sembarang orang yang dapat menerima wangsit, hanya orang-orang yang terpilih yang mampu menerimanya. Orang yang terpilih tersebut adalah orang yang tekun mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, tekun mencari hakikat dari hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Orang tersebut juga tekun menjalankan apa yang diistilahkan dengan laku, yaitu menjalankan berbagai bentuk puasa seperti tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu, mutih (hanya makan nasi putih), ngrowot (hanya makan buah-buahan), dan lain-lain.
Contohnya peristiwa meletusnya Gunung Merapi menyisakan banyak peristiwa. Sebelum Gunung Merapi meletus ada seorang warga di Lereng Merapi terutama di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KR) III di dukuh Takeran, desa Tlogolele, Solo, Boyolali, mengaku diberi wangsit oleh mbah Petruk (seorang tokoh yang dianggap penjaga Merapi). Wangsit tersebut didapat melalui mimpi untuk memprediksikan hal-hal yang akan terjadi. Menurut wangsit dari mbah Petruk, warga setempat harus menggelar kenduri agar selamat dari bahaya Merapi. Dalam mimpi tersebut, mbah Petruk meminta agar kenduri dilengkapi dengan berbagai ubarampe, seperti sega cagak atau tumpeng nasi tawar, tumpeng nasi gunung atau nasi jagung, palawija, jajan pasar, dan tumpeng kendhit. Disamping itu, warga juga diminta untuk juga membaca Surat Yasin, tahlil, dan doa untuk keselamatan warga sekitar.
Sedangkan dalam masyarakat suku Azande, mereka mengira bahwa jika ada penyakit berbahaya yang merenggut jiawa seseorang pasti ada tenung didalam tubuhnya yang harus segera ditemukan dan diadili. Untuk menemukan penyebabnya, seseorang akan memasukkan racun ke dalam tenggorokan seekor ayam. Jika ayam itu mati, berarti orang yang memiliki tenung penyebab penyakit itu telah ditemukan. Proses ini disebut dengan “wangsit racun”.
3.       Kepercayaan terhadap roh
Sistem kepercayaan telah berkembang pada masa manusia pra aksara. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain diluar mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya.
Kepercayaan terhadap adanya kekuatan metafisik juga terdapat pada masyarakat Jawa meskipun masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Mereka percaya pada suatu hal dibalik penampakan fisik yang mereka lihat. Itulah sebab mengapa masyarakat Jawa percaya adanya roh, dan hal-hal spiritual lainnya. Mereka kagum terhadap kejadian-kejadian disekitar  mereka, terhadap fenomena-fenomena alam sehari-hari yang kadang sulit dipahami dengan rasio. Rasa kagum inilah yang melahirkan bermacam-macam ritual tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Pemikiran kosmologis masyarakat Jawa tersebut kemudian mendasari perilaku masyarakat Jawa dengan kehidupan sehari-hari. Karena masyarakat Jawa yakin bahwa baik buruknya kejadian di dunia empiris sangat ditentukan oleh kejadian di dunia metaempiris yang dipersonifikasikan sebagai roh-roh tersebut, maka yang paling penting bagi orang Jawa adalah menjaga agar ‘roh-roh’ di dunia metaempiris selalu berkenan dengan tingkah laku manusia di dunia empiris. Oleh karena itu, dalam kebudayaan Jawa dikenal beberapa ritual yang berbau mistis sebagai usaha untuk menjaga keselarasan dan keharmonisan hubungan dunia empiris dan dunia metaempiris.

3.              Manfaat jurnal
Kajian tentang kepercayaan memang rumit karena ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Asal-usul pengetahuan manusia pada awalnya didasarkan pada keyakinan –keyakinan manusia mengenai sesuatau yang ada di luar dirinya.  Keterbatasan pola pikir manusia pada zaman dahulu memunculkan suatu konsep pengetahuan mengenai suatu kekuatan yang memunculkan keajaiban atau sesuatu yang berbau mistik atau tahayul. Zaman terus berjalan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya masyarakat mulai berpikir secara rasional. Namun pada kenyataannya, masyarakat Jawa yang religius terbilang modern pun masih mempercayai hal-hal yang mistis. Jadi, melalui jurnal ini diharapkan pembaca dapat mengambil banyak manfaat seperti agar lebih berpikir rasional, paham betul bahwa hal-hal seperti percaya wangsit, santet, dan roh termasuk syirik.
4.              Kesimpulan dan Saran
Dari jurnal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa masih banyak masyarakat yang percaya terhadap wangsit, santet, dan roh khususnya masyarakat Jawa. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka percayai termasuk syirik walaupun masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Justru kereligiusannya lah yang membawa mereka untuk lebih taat dan percaya terhadap mitos-mitos. Tentunya hal ini dipicu karena salahnya perspektif mereka terhadap Islam dan budaya Jawa. Semoga melalui jurnal ini kita bisa lebih paham mengenai kesalahpahaman terhadap korelasi antara budaya dan agama sehingga kita bisa meluruskan agama Islam.
Kamis, 26 Desember 2013

Contoh Proposal Kegiatan

PROPOSAL KEGIATAN
“Statistics for Universe”
Pentas Seni dan Bakti Sosial Statistika



 






















JURUSAN STATISTIKA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013
A.    NAMA KEGIATAN
Pentas Seni dan Bakti Sosial Statistika

B.     TEMA KEGIATAN
Statistics for Universe

C.    LATAR BELAKANG
Statistika Universitas Diponegoro memiliki potensi besar dari segi kualitas maupun kuantitas. Tidak hanya menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan formal semata, namun juga mendorong mahasiswanya dalam mengembangkan kreativitas dan jiwa social. Sehingga Universitas Diponegoro tidak hanya menghasilkan generasi muda yan penuh kreativitas, namun juga generasi muda yang berjiwa social tinggi.
Dari beberapa alasan tersebut, maka kami bermaksud mengadakan kegiatan yang berbasis seni dan bakti sosial dengan tema Statistics for Universe. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Pasca LKMM Pra Dasar Statistika 2013.

D.    LANDASAN KEGIATAN
Kegiatan ini berlandaskan pada:
1.      Tri Dharma Perguruan Tinggi
a.       Pendidikan
b.      Penelitian
c.       Pengabdian Masyarakat
2.      Program Kerja Himpunan Mahasiswa Statistika Universitas Diponegoro periode Maret – Desember 2013

E.     TUJUAN KEGIATAN
Adapun tujuan kegiatan ini sebagai berikut:
1.      Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas serta kerjasama keluarga Statistika Universitas Diponegoro
2.      Mempererat persaudaraan keluarga Statistika Univesitas Diponegoro
3.      Mengembangkan kepekaan sosial terhadap sesama

F.     BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan dari Pentas Seni dan Bakti Sosial Statistika adalah:
1.      Drama                                    
2.      Vocal group               
3.      Stand Up Commedy  
4.      Solo and duet song    
5.      Musikalisasi puisi
6.      Bakti Sosial

G.    PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan Pentas Seni dan Bakti Sosial Statistika akan diselenggarakan pada:
hari, tanggal    : Sabtu, 14 Desember 2013
waktu              : 09.00 WIB s/d selesai
tempat                         : Lapangan Bulutangkis Jl. Durian Utara III Pedalangan Banyumanik

H.    PESERTA KEGIATAN
Seluruh mahasiswa Statistika Universitas Diponegoro yang terdiri dari Angkatan 2009+, Angkatan 2010, Angkatan 2011, dan Angkatan 2012.

I.       PANITIA PENYELENGGARA
Lampiran 1.

J.      ANGGARAN KEGIATAN
Lampiran 2.

K.    SUSUNAN ACARA
Lampiran 3.



L.     PENUTUP
Demikian proposal kegiatan Pentas Seni dan Bakti Sosial Statistika dengan tema “Statistics for Universe” dalam rangka Pasca LKMM Pra Dasar Statistika 2013. Semoga kegiatan yang kami laksanakan dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
Atas perhatian dan partisipasi seluruh pihak demi terlaksananya kegiatan ini, kami mengucapkan terima kasih.

LEMBAR PENGESAHAN
Semarang, 10 Desember 2013
       Ketua Panitia,                                                                                      Sekretaris,




     Yunus Saepudin                                                                           Fathimatuzzahra S.N.
NIM. 24010213120022                                                                      NIM. 24010213120041

  Mengetahui,
        Ketua HIMASTA,




         Anton Suhartono
     NIM.24010211130034
Lampiran I

SUSUNAN PANITIA

Penanggung Jawab                  : Muhammad Fu’ad Hasbi
Ketua Panitia                           : Yunus Saepudin
Wakil Ketua Panitia                : Faisal Fikri Utama
Sekretaris                               : Fathimatuzzahra Syahrozad Nuroqi
Shinta Ayudya Mawarni
Bendahara                              : Rizki Dita Ramadani
                                                Rara Okta     
Sie. Humas                             : Freddi Si Payung
                                                Alwi Assegaf
                                                Uli Damayanti Sitanggang
                                                Annisa Rahmawati
                                                Mutia Dwi Permata Sari
                                                Erna Musri Arlita
                                                Winahyu Handayani
                                                Irtafingah
                                                Khalida Hanum
Sie. Acara                              : Kukuh Wicaksana
                                                Muhammada Fakhrur Rozy
                                                Pintar Siregar
                                                Sasmita Kartika Sari
                                                Lia Safitri
                                                Tri Yani Elisabeth Nababan
                                                Elvanda Damayanti
                                                Rahma Utami Rusli
                                                Dwi Asty Rakhmawati
                                                Siti Maulina Meutuah
                                                Caecilia Yolandarisa
                                                Asri Cahyani
                                                Sri Endah Moelya Artha
                                                Shinta Karunia Permata Sari
Sie. Perlengkapan                   : Alvi Waldira
                                                Irfan Afifi
                                                Ridwan Bagus Septiadi
                                                Puja Sukma Indriana
                                                Febrianita Rahmadhani
                                                Jenesia Kusuma Wardhani
                                                Nurwalidaini
                                                Titin Afriana
                                                Syavhana Yusricha Zuhri Putri
Sie Publikasi dan Dokumentasi: Alifah Zahlevi
                                                Mega Tri Yuliani
                                                Amor Disha Putri
                                                Audie Graha
                                                Asykurria Khairunnisa
                                                Sara Yulus Khazmi
                                                Tutut Jarwaning Tyas
                                                Maulida
Sie. Dekorasi                          : Rahmadi Pinto
                                                Siti Fatimah
                                                Raja Sazila
                                                Cyntia Surya Utami
                                                Adi Waridi Basyiruddin Arifin
                                                Devi Kurniati
                                                Hestuning Nur Listiani
                                                Riza Asmul Faizah
                                                Lysda Warni
                                                Oktafiani W
                                                Nadya Kiki Aulia
Sie. P3K                                : Puji Rahayu
                                                Trimono
                                                Rahma Devi Kusumaning
                                                Luxsma Ariesta Andhani
                                                Esti Restu Yuliani
                                                Mei Fadillah
                                                Selynda Nemta
Sie. Konsumsi                        : Nuansa Wangi Alam
                                                Alies Yusfika
                                                Dian Kurniawan
                                                Emyria Natalia
                                                Sandra Wijaya
                                                Adilla Fithriyani
                                                Lindsay Pratiwi
                                                Evi Kristiani
                                                Sensiani
                                                Anisa Pratiwi
Sie. Keamanan                       : Lingga Hardinata
                                                Nindo Johan
                                                Eva Dwi Kusuma
                                                Husnul Finisa
                                                Haniatur Rosyidah
                                                Vetranella
                                                Arkadina Prismatika
                                                Vania Orva



Lampiran 2

ANGGARAN DANA
Pemasukan   
            Iuran Panitia                         @Rp 3.000,00 x 83        Rp 249.000,00

            Pengeluaran
1.         Kesekretariatan                                                     Rp 9.000,00
2.         Sewa Tempat                                                        Rp 70.000,00
3.         Perkap                                                                  Rp 10.000,00
4.         Dekorasi                                                               Rp 10.000,00
5.         Konsumsi                                                              Rp 150.000,00   +
Rekapitulasi Biaya                                                      Rp 249.000,00



Lampiran 3

SUSUNAN ACARA


Waktu
Susunan Kegiatan
Perlengkapan
Penanggung Jawab
09.00-09.10
Pembukaan
Microfone
Dwi Asty
09.10-09.15
Sambutan Ketua panitia
Microfone
Fu’ad
09.15-09.20
Sambutan ketua himasta
Microfone
Fu’ad
09.20-09.40
Persiapan drama dan  Penampilan drama
Proyektor, Laptop, Sound system, Microfone


Elvanda
09.40-09.50
vocal group
Microfone, Keyboard
Febrianita
09.50-10.05
stand up comedy
Microfone
Alvi
10.05-10.25
solo song dan duet
Microfone
Irfan
10.25-10.35
musikalisasi puisi
Gitar, Microfone
Ridwan
10.35-10.40
penutup
Microfone
Dwi Asty