ANALISIS RUNTUN WAKTU
Analisis runtun waktu merupakan salah satu metode peramalan yang sering digunakan. Ciri-ciri
analisis runtun waktu yang sangat menonjol adalah bahwa deretan observasi pada
suatu variabel dipandang sebagai realisasi dari variabel random berdistribusi
bersama. Yakni kita menganggap adanya fungsi probabilitas bersama pada variabel
random Z1, Z2,..., Zn misalnya f1,2,...,n
(Z1, Z2 , ..., Zn ) dengan indeks 1,2,...,n pada fungsi
kepadatan menunjukkan kenyataan bahwa pada umumnya parameter atau bahkan bentuk
fungsi kepadatan itu bergantung pada titik waktu tertentu. Model seperti ini
dinamakan proses stokhastik, karena observasi berurutan yang tersusun melalui
waktu mengikuti suatu hukum probabilitas.
Dalam Brockwell and
Davis (1991), Box et al. (1994), Tsay
(2005) dan Wei (2006) dinyatakan bahwa pemodelan statistik untuk analisis
runtun waktu jika dirunut ke belakang, diawali oleh Yule pada tahun 1927 yang
memperkenalkan model autoregressive linear (AR) untuk meramalkan bilangan
tahunan sunspot. Sejak itu publikasi
berkaitan dengan analisis runtun waktu berkembang dengan pesat. Sebagian besar
penelitian difokuskan pada model runtun waktu linear, khususnya model linear
Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) yang dikenalkan oleh Box dan
Jenkins pada tahun 1976.
Menurut Box et al. (1994), sampai saat ini ARIMA
merupakan salah satu model yang paling populer untuk prediksi data runtun waktu univariat.
Model-model stasioner non musiman
terdiri dari AR, MA dan ARMA, sedangkan model
non stasioner non musiman terdiri dari ARI, IMA dan ARIMA. Apabila
komponen musiman dimasukkan ke dalam model ARIMA menjadi model musiman
(SARIMA). Metode Box-Jenkins untuk
pemodelan ARIMA terdiri dari beberapa tahapan, yaitu identifikasi, estimasi
parameter, verifikasi model dan forecasting.
(i)
Identifikasi
Prosedur
identifikasi model dimulai dengan uji stasioneritas data. Stasioneritas data
dapat dideteksi secara visual menggunakan
plot data runtun waktu. Data dikatakan stasioner apabila plot data
runtun waktu tidak menunjukkan adanya tren. Sedangkan untuk mengidentifikasi
order dari suatu model ARIMA dapat dideteksi melalui plot fungsi autokorelasi
(f.a.k) dan fungsi autokorelasi parsial (f.a.k.p). Karakteristik f.a.k dan
f.a.k.p. teoritis untuk proses stasioner dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut
(Wei, 2006).
Tabel 2.1. Karakteristik f.a.k dan f.a.k.p. teoritis untuk
proses stasioner.
Proses
|
f.a.k.
|
f.a.k.p.
|
AR(p)
|
Turun
secara eksponensial atau membentuk gelombang sinus
|
Terputus
setelah lag-p
|
MA(q)
|
Terputus
setelah lag-q
|
Turun
secara eksponensial atau membentuk gelombang sinus
|
ARMA(p,q)
|
Dies down
|
Dies down
|
(ii)
Estimasi
parameter
Parameter-parameter
model ARIMA dapat diestimasi menggunakan metode Maximum Likelihood Estimator (MLE), Metode Moment atau Metode
Kuadrat Terkecil (LSE). Parameter-parameter model diestimasi berdasarkan data.
Estimasi awal parameter yang ditemukan pada identifikasi model dapat digunakan
sebagai nilai awal dalam metode estimasi secara iteratif.
(iii)
Verifikasi
model
Model
yang telah diperoleh pada langkah sebelumnya harus dilakukan beberapa tahapan
pengujian asumsi untuk mendapatkan model terbaik. Pengujian ini meliputi uji independensi residual dan uji
homoskedastisitas. Apabila hasil pengujian menyimpulkan bahwa residual memenuhi syarat-syarat white noise
dan memenuhi kriteria AIC atau SBC untuk pemilihan model terbaik maka model
yang diestimasi pada langkah sebelumnya dapat ditetapkan sebagai model terbaik.
(iv)
Prediksi
(forecasting)
Prediksi
data runtun waktu beberapa langkah ke depan dapat dilakukan berdasarkan model
terbaik yang telah diperoleh pada langkah sebelumnya.
Adapun
bagan singkat prodesur Box-Jenkins pemodelan ARIMA diberikan seperti pada
Gambar 1.1.

Gambar 1.1. Bagan prosedur pemodelan
ARIMA
KONSEP
DASAR ANALISIS RUNTUN WAKTU
AUTOKORELASI
Suatu runtun waktu adalah himpunan
observasi berurut dalam waktu. Runtun waktu yang dibicarakan hanya runtun waktu
diskrit dengan observasi Zt pada waktu 1,2,...,n. Jika runtun waktu
aslinya kontinyu, kita masih dapat memperoleh runtun waktu yang diskrit dengan mengambil observasi
pada waktu tertentu. Suatu runtun waktu statistik dapat dipandang sebagai suatu
realisasi dari suatu proses statistik (stokhastik). Dengan demikian sebarang Zt
dapat dipandang sebagai suatu realisasi dari suatu variabel random Zt
yang mempunyai fungsi kepadatan peluang tertentu f(Zt). Jika suatu
proses stokastik mempunyai fungsi kepadatan peluang bersama yang independen
dengan waktu t, dengan struktur probabilistik tidak berubah dengan berubahnya
waktu maka disebut proses stasioner. Jika tidak demikian dikatakan proses
tidak stasioner.
Dalam proses stasioner berlaku :
dengan
dan
untuk semua k, adalah konstan. Disini
adalah mean proses itu
dan
adalah autokovariansi pada lag k. Proses ini mempunyai variansi konstan, yakni
Untuk semua
bilangan k berlaku :
karena
Autokorelasi
pada lag k didefinisikan sebagai:
Fungsi
autokorelasi, disingkat f.a.k dibentuk dengan himpunan
dengan
=1.


Autokorelasi
Dari suatu runtun waktu yang
stasioner Z1, Z2,..., Zn, kita dapat
mengestimasi mean
dengan menggunakan
satatistik
dan untuk
k=0,1,2,...
Nilai
kemudian diestimasi dengan
Untuk
proses normal yang stasioner, Rumus Bartlett, dengan menganggap bahwa
=0 untuk
semua k>K,
Ini menunjukkan nilai-nilai
yang
berurutan dapat mempunyai korelasi yang tinggi. Dengan mengambil nilai s=0,
maka rumus Bartlett untuk semua k>K
dan untuk N yang sangat besar, jika
=0,
mendekati
distribusi normal.
Dalam praktek, rumus variansi
menjadi
Dan akar
positifnya merupakan sesatan standar
atau SE(
) untuk lag
besar.


Contoh 1
- Hitung r1 untuk delapan nilai pertama
- Hitung r1, r2,….,r12 untuk semua 50 data
1-10
|
289
|
285
|
289
|
286
|
288
|
287
|
288
|
292
|
291
|
291
|
11-20
|
291
|
296
|
297
|
301
|
304
|
304
|
303
|
307
|
299
|
296
|
21-30
|
293
|
301
|
293
|
301
|
295
|
284
|
286
|
286
|
287
|
284
|
31-40
|
282
|
278
|
281
|
278
|
277
|
279
|
278
|
270
|
268
|
272
|
41-50
|
273
|
279
|
279
|
280
|
275
|
271
|
277
|
278
|
279
|
283
|
Autokorelasi Parsial
Alat lain yang digunakan dalam
analisis runtun waktu adalah fungsi autokorelasi parsial (f.a.k.p) yang ditulis
dengan
yaitu himpunan autokorelasi parsial untuk berbagai lag k. Ini
didefinisikan sebagai :
dengan 
adalah matriks
definit posotif dan
adalah Pk dengan kolom terakhir diganti dengan
Nilai estimasi
diperoleh dengan mengganti
dengan ri .
Sehingga
dan seterusnya.
Untuk
lag yang cukup besar, dimana f.a.k.p menjadi kecil sekali (mendekati nol),
Quenouille memberikan rumus
Var(
)
.
Untuk N yang sangat besar,
mendekati distribusi normal.
Contoh 2.
Tentukan nilai
untuk data pada contoh 1.
Latihan 1

Latihan 2
METODE
BOX-JENKINS
Metode Box-Jenkins untuk analisis
runtun waktu menggunakan operator backshift B yang didefinisikan sebagai :
BZt = Zt-1
dan operator
diferensi
yang didefinisikan
sebagai
Dengan
demikian kedua operator tersebut mempunyai hubungan
dan
memenuhi hukum-hukum aljabar elementer. Model proses statistik dalam bentuk
kerap
digunakan, dengan
merupakan polinomial,
dan at runtun getaran yang dibangkitkan oleh white noise (getaran
random). Runtun {at} independen dan berdistribusi normal dengan mean
0 dan variansi konstan
.
PROSES AUTOREGRESIF (AR)
Bentuk umum suatu proses
autoregresif tingkat p (AR(p)) adalah :
yakni
nilai sekarang suatu proses dinyatakan sebagai jumlah tertimbang nilai-nilai
yang lalu ditambah suatu sesatan (goncangan random) sekarang. Jadi dapat
dipandang Zt diregresikan pada p nilai yang Z yang lalu. Persamaan
diatas biasa ditulis sebagai : 
dengan
dinamakan operator
AR(p). Syarat perlu dan cukup agar proses AR(p) stasioner adalah semua akar
dari
terletak didalam
lingkaran satuan. Proses AR(p) selalu invertibel.
PROSES RATA-RATA BERGERAK
(MOVING AVERAGE - MA)
Model Moving Average tingkat q, atau
proses MA(q), didefinisikan sebagai
dengan
at independen dan berdistribusi normal dengan mean 0 dan variansi
. Persamaan diatas dapat ditulis
dengan
.
Persamaan (3.2) dapat juga ditulis
Proses
MA(q) dikatakan invertibel jika harga koefisien
merupakan deret yang
konvergen, yaitu jika dan hanya jika
akar-akar
semuanya terletak
didalam lingkaran satuan. Proses ini selalu stasioner.
PROSES CAMPURAN (ARMA)
Suatu
perluasan yang diperoleh dari model AR dan MA adalah model campuran yang
berbentuk
dan
dinamakan model ARMA(p,q). Model ini biasa ditulis :
Untuk
stasioneritas dan invertibilitas memerlukan akar-akar
dan
terletak diluar lingkaran
satuan .
ANALISIS RUNTUN WAKTU NONSTASIONER
Runtun waktu yang stasioner jarang
dijumpai dalam praktek, namun stasineritas merupakan asumsi yang sangat
bermanfaat dalam mempelajari runtun waktu. Ada banyak hal yang menyebabkan
suatu runtun waktu tidak stasioner,
tetapi yang paling banyak dijumpai adalah runtun waktu yang tidak mempunyai
mean yang tetap. Kebanyakan runtun waktu harga termasuk kategori ini, demikian
juga runtun waktu hasil, seperti jumlah penjualan suatu perusahaan. Runtun
waktu pengeluaran (belanja) seperti belanja konsumen untuk barang-barang lama,
belanja pemerintah, atau belanja perusahaan untuk barang modal (kapital) juga
termasuk runtun waktu nonstasioner.
Runtun waktu selisih yang Stasioner
Pengambilan
selisih nilai-nilai yang berurutan dari runtun waktu nonstasioner ,homogen
merupakan suatu cara untuk membuat runtun waktu menjadi stasioner. Lebih lanjut
jika didefinisikan barisan selisih
Wt = Zt – Zt-1
Maka
proses umum ARMA dapat ditulis
Persamaan
(4.1) tersebut dapat dipandang sebagai integrated autoregresive-moving average
process (ARIMA). Dalam banyak kasus dapat terjadi bahwa selisih pertama suatu
runtun waktu masih nonstasioner, mungkin selisih kedua menjadi stasioner.Dengan
menuliskan derajat selisih dengan d, maka suatu proses ARIMA dapat digambarkan
dengan dimensi p,d dan q . Jadi ARIMA(p,d,q) berarti runtun waktu nonstasioner
setelah diambil selisih ke d menjadi stasioner.
Materi by Dosen Times Series Statistika Undip
0 komentar:
Posting Komentar